Penulis yang sangat sering gue sebutkan namanya di sini, Raditya Dika, baru saja menerbitkan bukunya yang ke-6, yaitu "Manusia Setengah Salmon". Waktu menjelang buku ini terbit, gue terus-terusan buka blog nya dia. Gue termasuk fans nya Raditya Dika. Tulisan-tulisan yang dia buat itu menampilkan komedi, pelajaran hidup, keluarga, bahkan cinta. Dan dia sukses mengemas semuanya itu dengan rapi.
Tanggal 24 Desember kemaren, gue membeli buku itu. Gue membuka dompet gue, melihat apakah masih ada uang di dompet gue. Ternyata gak sesuai yang gue takutkan. Gue ambil buku itu dari tumpukan buku-buku best seller. Gue berjalan ke kasir, menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan, dan mbak-mbak kasir itu memberi kembalian delapan ribu. Gue pun akhirnya pulang.
Gue membaca buku itu dari awal sampai akhir. Ternyata, banyak banget hal yang berbeda dari buku ini. "Manusia Setengah Salmon" terlihat lebih 'dewasa' dibandingkan dengan lima novel sebelumnya. Tetep bikin ngakak. Tapi, buku ini juga membuat gue berpikir, dan akhirnya galau.
Buku ini bercerita tentang perpindahan. Pindah rumah, pindah negara, bahkan pindah hati. Kehidupan sehari-hari yang telah mengajarkannya. Sebagai murid yang baik, dia menuliskannya dalam sebuah novel, dan membagikan pelajaran berharga bagi pembaca-pembacanya.
Saat gue membaca novel itu, gue juga baru aja patah hati. Gue suka sama satu cowok, dan karena hubungan kami yang semakin hari semakin dekat, rasa suka itu berkembang menjadi rasa sayang. Namun kenyataannya agak menyakitkan, bahwa dia sebenernya gak ada rasa sama gue. Ditambah lagi, dengan sangat tiba-tiba, gue harus gak kontak sama dia 30 hari lamanya, karena keadaan memaksa gue untuk gak suka sama dia. Well, it hurts. Harus melupakan orang yang udah bersama-sama dengan gue selama lima bulan terakhir dalam kurun waktu yang singkat. Setelah itu, gue harus bisa kembali menjadi 'normal'.
Meskipun kita udah gak boleh kontak, tetep aja banyak hal yang bikin kita kontak, atau minimal, memaksa gue untuk mengingat-ingat kenangan kita yang dulu-dulu. Setiap hari kita masih BBMan, entah lah itu komen status, curhat, atau cuma sekedar broadcast message. Tapi tetep aja, chat history gue sama dia gak ada yang bolong. Pas gue liat-liat chat history, gue selalu keinget kita gak boleh kontak selama 30 hari. Bawaannya pengen ngais-ngais tanah.
Setiap ngeliat BB, gue buka Recent Updates, hanya untuk melihat dia ganti status atau nggak. Kalau dia ganti status yang lagi seneng, dalam hati gue ngomong, "Ya ampun, mungkin dia memang lebih seneng tanpa gue". Kalau dia statusnya lagi sedih, dalam hati gue, "Ya ampun, gue pengen ngehibur dia". Kalau dia gak update status, gue mikir, "Ya ampun, dia ke mana?"
Kesimpulan: Ya ampun, gue galau.
Liburan Natal dan tahun baru di sekolah gue lumayan panjang, berlangsung hampir satu bulan. Daaann, selama satu bulan itu juga gue terus-terusan melakukan ritual yang sama: buka BB dan teriak-teriak "Ya ampun! Ya ampun!" Untungnya, di liburan kali ini, temen-temen gue gak banyak yang berlibur ke luar kota. Banyak juga yang menjamur kebosenan di rumah. Gue pergi main sama mereka, mencoba menertawakan banyak hal seolah kita gak punya masalah. Setelah kembali ke rumah, pikiran-pikiran itu kembali meracuni gue.
Akhirnya, liburan terus berlalu dengan masih adanya chat dari dia. Gue mencoba cerita sama beberapa sahabat yang gue percaya. Hampir sama semua, mereka seolah menyalahkan gue untuk komunikasi itu. Gue cuma bisa senyum dan ngomong dalam hati, "Lo gak tau gimana perasaan gue, kampret." Gimana rasanya gue begitu dekat sama dia, tapi gue harus menjadi jauh. Gimana rasanya gue harus terus bersama-sama dia, dan keadaan terus mengingatkan gue untuk menjauh. Itu nyesek. Banget.
Tiba juga hari di mana gue harus masuk sekolah. Itu berarti tiba juga hari gue ketemu sama temen-temen gue. Ada beberapa temen gue yang pergi ke luar negeri dan membawakan oleh-oleh buat gue. Ada juga temen gue yang menggendut karena kerjaan mereka waktu liburan cuma bangun-makan-tidur-makan-nonton-makan-tidur. Ada juga temen gue yang jadi item gara-gara sepulang dari Pangandaran. Agak-agak konyol sih, di saat orang-orang nyari salju saat Natal, mereka malah berjemur di pinggir pantai kayak ikan asin.
Mau gak mau, gue juga harus ketemu sama dia. Meskipun gue udah bisa mengikis perasaan gue, tapi di saat gue ngeliat dia, masih ada perasaan 'deg' di dada. Gue memaksakan bibir gue untuk tersenyum menyapa dia. Dia juga senyum liat gue. Dan pada detik berikutnya, kita sama-sama buang muka.
Gue masuk ke ruang kebaktian, ikutin kebaktian dari awal sampai akhir, dan akhirnya gue pergi sama temen-temen gue ke sekolah gue waktu SD, di SDK 1 BPK. Gue ketemu mantan guru-guru yang dulu ngajar gue. Rata-rata dari mereka masih inget sama gue dan bilang, "Wah, sekarang udah SMA ya." Gue senyam-senyum sendiri ngerasa bangga. Saat anak-anak udah pada keluar kelas dan gue masuk ke kerumunan mereka, temen gue, Daniel, ngakak kenceng-kenceng, "Na! Lo masih cocok ya jadi anak SD!" Gondok.
Gue pergi ke SD gue sama empat temen yang lain, Daniel, Maureen, Wilson, dan Edbert. Satu-satunya temen gue yang sekolah di sana juga cuma Maureen. Emang, dia itu temen gue dari gue masih minum pake empeng sampe gue udah minum tanpa bantuan apa-apa. Malahan, gue bisa minum jarak jauh sekarang. Kalau ada temen gue yang ngelempar air ke gue, gue langsung mangap en gue telen. Nggak, nggak, yang terakhir gue bercanda.
Kita berempat (Edbert udah pulang duluan) jalan-jalan keliling sekolah. Sekarang jumlah ruangan kelasnya bertambah. Dekorasi gedungnya juga udah semakin bagus. Lokasi kantin sekarang juga pindah. Gue melihat anak-anak cowok lari-lari di lapangan main bola, termasuk adik gue. Ternyata, udah lima tahun gue meninggalkan tempat ini. Dalam waktu lima tahun tersebut, cukup banyak yang berubah.
Gue melihat Maureen dan Wilson bergandengan tangan. Sahabat gue yang gue kenal waktu masih suka ngompol, sekarang udah punya pacar. Gue dan Daniel ngobrolin hal-hal yang terjadi beberapa hari ini. Gue kenal sama Daniel sejak masuk SMA, dan gue jadi deket sama dia karena dia itu mantannya temen deket gue.
Sesampainya kita di rumah masing-masing, berarti kita juga menjalani kegiatan kita lagi masing-masing. Gue masuk kamar, tidur siang sebentar, dan gue bersiap-siap pergi lagi ke tempat les. Di perjalanan, gue melihat jam di mobil. Setiap satu menit, jam digital itu menambah satu angka. Bahkan, sampai gue turun dari mobil pun, angka itu tidak berhenti bertambah.
Tanpa sadar, setiap detiknya gue bertambah tua. Seharusnya, setiap detiknya gue bertambah dewasa. Tentu saja, gue harus melepaskan beberapa masa lalu gue yang memang menghambat pendewasaan gue. Masih banyak hal-hal di masa lalu yang membuat gue salah respon sehingga gue bersikap seperti anak kecil.
Gue iseng-iseng membaca kembali novel 'Manusia Setengah Salmon' pada bab terakhir. Bagaimana Dika bertemu dengan teman-teman SMA nya yang udah gendong anak. Bagaimana dia menemukan seseorang yang tepat baginya. Dan semua itu butuh proses, atau di buku ini disebut dengan PERPINDAHAN.
Kita harus berani pindah untuk meraih sesuatu yang baru. Beberapa hari yang lalu, kita udah pindah tahun. Di tahun lalu, gue mengalami pindah hidup, di mana gue akhirnya memutuskan untuk hidup dengan benar. Gue juga pindah sahabat, di saat sahabat-sahabat gue pergi, gue mendapat sahabat-sahabat yang baru. Gue pun sempet mengalami pindah kelas dua kali. Pertama waktu gue keluar aksel dan masuk ke reguler, kedua waktu gue naik ke kelas XI.
Sekarang, yang gue mesti lakukan mungkin 'pindah hati'. Yang tadinya gue galau-galauin cowok yang gak pernah mikirin gue, sekarang gue harus lebih memfokuskan hati gue kepada hal-hal yang lebih penting. Gue juga sudah harus bisa 'pindah kebiasaan', yang biasanya gue menunggu dia update status, sekarang gue udah harus menghentikan kebiasaan itu dan menggantinya dengan hal yang baru dan lebih berguna.
Gue kembali melihat BB. Tanpa sengaja, gue melihat contact dia lagi. Gue menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Jujur, ini gak mudah bagi gue. Gue berdoa, mendoakan perasaan kecewa gue yang gak kunjung ilang. Mendoakan dia, supaya dia bisa bahagia. Meskipun setelah 30 hari ini kita bisa kembali menjadi dekat lagi, tapi kalau perasaan gue belom diberesin, ini bisa menjadi gawat.
Akhirnya, gue mencari tombol 'delete', dan gue memutuskan untuk men-delete kontaknya sementara waktu. Agak terkesan lebay memang, tapi gue ingin 30 hari ini tidak menjadi sia-sia. Gue pengen pindah, dan gue gak bisa kalau gue terus menerus diperhadapkan dengan dia. Dia mungkin bisa, tapi tidak dengan gue.
Pada hari ini, gak ada satu pun BBM dari dia. Jelas lah, karena kontak udah dihapus. Sakit sih, tapi hidup terus berjalan. Dan itulah yang berusaha gue lakukan, PINDAH.
Trims, Raditya Dika, udah ngingetin betapa pentingnya kita move on :)







0 comments from special people!:
Posting Komentar