This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 24 April 2011

Our Little Puppy



Gue sekeluarga baru beli dogi kecil dari ras mini pom. Alesannya sih simple, kita mau ngasih ade ke dogi gue yang dulu, Diva. Kita pun menargetkan untuk beli dogi yang bener-bener lucu, putih, dan menggemaskan. Mulai dari online shop, pet shop, sampe kenalan-kenalan ditanyain mengenai penjualan anjing mini pom yang lucu ini.

Sampai satu hari, kita menemukan satu dogi mini pom yang lucu banget di internet. Langsung kita beli saat itu juga. Tapi ada satu hal yang kita lupakan, umur dia masih satu setengah bulan. Yah, kita pikir gak pa-pa lah ya, kan udah dijual, berarti udah tenang en gak akan apa-apa.

Hari Selasa kemaren, kita pun ambil dogi itu dan kita kasih nama Ivyena, atau kita panggil Ivy (iye, namanya lagi-lagi lebih bagus dari gue). Kita bawa pulang, and as usual, tu dogi jadi perebutan orang serumah. Dan yang lebih culunnya, Ivy, si dogi segede sukro, ngejer-ngejer Diva yang ukurannya udah jauh lebih gede. Kita yang ngeliatnya udah cengok.

Singkat cerita, kondisi Ivy melemah. Dia terus-terusan muntah en boker, tanpa makan. Badan dia pun melemah terus-terusan. Tiga hari berturut-turut kita udah bawa ke klinik hewan demi kesembuhan dia.

Hari ini, gue, adik, dan bokap pergi ke Lembang buat kebaktian padang dalam rangka Paskah. Nyokap gue ngurus Ivy, karena emang kondisi dia udah lemah banget. Dia terus-terusan tidur en gak mau bangun. Sampai jam 8, napasnya udah satu-satu. Ivy akhirnya dibawa lagi ke klinik hewan dan dikasih oksigen.

Gue baru bisa nengok dia jam 4. Kita pun pergi ke sana sekeluarga. Dan memang baru pertama kali kita ke klinik hewan sekeluarga. Biasanya cuma bertiga atau berdua.

Sesampai di sana, kita ngeliat Ivy udah tergeletak dengan infus. Badannya udah gak bisa bangun. Ternyata itu virus distemper. Awalnya kita berharap dia bisa sembuh. Tapi setelah liat kondisinya, harapan itu pun hilang.

Satu persatu kita datengin Ivy. Semua ngucapin semangat supaya dia bisa bertahan hidup. Gue pegang perutnya, masih napas. Gue masih tahan nangis, sedangkan nyokap gue udah gak bisa nahan, karena emang nyokap yang paling banyak ngurus Ivy. Pas gue mau gendong, dia kayak udah gak ada tenaga sama sekali, bahkan untuk dia negakin kepalanya.

Saat dia dikasih obat, kayaknya dia kesedak. Gue ngeliat dia bergerak ngulet. Gue sempet seneng, karena akhirnya dia bergerak. Tapi itu salah.

Di sana lah napas terakhir dia dihembuskan.

Di depan mata kita berempat sekeluarga, dia pun akhirnya pergi. Gue langsung ambil dan gendong dia. Badannya udah lunglai dan memang gak bernyawa. Matanya masih terbuka, seolah masih berharap buat hidup. Dan begitu juga harapan kita.

Ivy dikubur di depan klinik hewan itu karena di rumah gue gak ada tanah. Dan kita relakan, mungkin memang seharusnya begitu.

Ivyudah membawa kebahagiaan buat keluarga. Kelincahan dia di hari pertama, kelucuan dan kebulatan dia. Semua masih terekam dan membuat dirinya tetap menjadi anak anjing kami.

Goodbye, Ivy, and forget us not.


Jumat, 15 April 2011

Back to Dance

Jujur, sebenernya gue nulis di blog juga gak kepikiran mau nulis apa. Belakangan ini, gak ada yang terlalu spesial untuk diceritain sebenernya. Semua biasa aja, selaen bersin-bersin dan batuk-batuk. Sial, gue flu lagi.

Mungkin ada satu yang bisa gue ceritain.

Gue berencana untuk dance lagi. Kali ini, grupnya terdiri dari tujuh orang. Dan belakangan ini, gue lagi rajin-rajinnya mencari gerakan buat dance, ditambah juga dengan lagu-lagunya. Sejujurnya, gue sangat excited pas gue tahu gue bisa dance lagi. Tapi sejujurnya pula, gue gak tahu gimana harus ngungkapin itu semua dengan tulisan. Maklum, saya penulis cerita galau :P

Kayaknya cuma segini deh yang bisa gue ceritain. Haha... See ya, guys!

Sabtu, 09 April 2011

Fall, Cry, Take A Deep Breath, Move On

Sejujurnya, belakangan ini gue down, bener-bener jatoh banget. Emang sebenernya masalahnya gak gede. Tapi ada pepatah yang ngomong, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Awalnya sedikit, makin lama makin gede. Terus ditambahin sama yang paling gede. Lalu, DUAR! Meledak semua dalam satu waktu.

Gue cuma akan cerita salah satu nya. Inget tentang 'harapan' yang pernah gue omongin beberapa postingan yang lalu. Hell, itu ternyata hanya harapan palsu yang gue dapet. Entah harus berapa lama gue ngebohongin diri gue sendiri kalau dia emang buat gue. Saat gue udah tahu apa yang sebenernya terjadi, pilihan gue cuma dua: tetap berharap dan kasih makan harapan itu, atau gue berhenti.

Gue pun memutuskan untuk berhenti. Emang sih, semua hal mungkin selama ada harapan. The question is, apakah gue akan bahagia nanti setelah bisa jadi sama dia? Mungkin aja nanti semua akan berjalan lebih buruk dari yang gue harapkan. Gue emang gak mau pesimis, tapi gue harus realistis. Melihat apa yang udah terjadi sampai saat ini, semua bener-bener ironis. Mungkin keberadaan gue sangat lah tidak penting, atau mungkin mengganggu. It's better for me to go.

Kadang, suara hati memang gak selamanya benar.

Siapa bilang gue gak sedih dengan keputusan gue? Gue sedih banget. Bahkan, gue bisa sampe nangis seharian (karena masalah yang laen juga tentunya). Gue tiba-tiba meledak kayak granat. Tinggal kena goncangan sedikit, langsung meledak.

Rasanya gue pengen ubah keputusan gue. Tapi kalau gue ubah keputusan, berarti keadaan harus berubah. Masalahnya, gimana caranya gue merubah keadaan yang sudah sangat tidak memungkinkan? Karena itu, gue perlu untuk berpikir dahulu sebelum bersikap. Keputusannya memang tidak menyenangkan, tapi mau gimana lagi? Begitulah satu-satunya cara gue untuk menjadi dewasa.

Setelah satu hari gue nangis, gue gak boleh terus-terusan terpuruk. Gue harus bisa me-refresh semua nya. Gue harus bangkit dan maju. Tapi tentu aja, gue yang udah abis kekuatan, perlu menambah kekuatan gue dulu. Kan aneh juga, kemarennya gue nangis, besoknya gue langsung ceria loncat-loncat. Yang ada gue langsung disetrum en dimasukin ke Riau 11.

Gue perlu waktu untuk berpikir en menenangkan diri. Tarik napas dalam-dalam. Lari dari rutinitas adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Kadang, jalan-jalan sendirian, window shopping barang yang mahal-mahal (gue gak mungkin beli, cuma liat-liat), baca novel sambil denger musik, semua itu sering kali membantu gue untuk tenang dulu dan akhirnya kembali melangkah.

Dari semua yang bisa nenangin gue, cuma satu hal yang paling suka gue lakuin: makan J.Cool sambil baca novel atau menulis aransemen lagu. Itu biasanya membuat pikiran gue melayang jauh banget, membuat gue berimajinasi positif. Gue gak usah mikirin dia, atau teman-teman yang menyebalkan, rutinitas yang membosankan. Cukup hanya gue, yoghurt, novel dan musik, en tempat cozy dengan iringan suara mesin pembuat kopi. Itu sangat lah menenangkan.

Saat gue mengambil langkah pertama untuk maju, rasanya berat banget en pengen banget untuk mundur lagi ke belakang, menikmati fantasi dan harapan gue bersama dia. Tapi gue sadar, gue harus maju en melangkah ke depan. Akhirnya gue mengambil langkah kedua, not bad. Langkah ketiga pun gue ambil lagi, perasaan mulai tenang. Langkah keempat, gue sudah mulai mantap. Langkah kelima, hati gue dan jiwa gue udah setuju, gue harus pergi. Langkah keenam, gue bernapas lega dan melangkah lebih cepat.

Dan saat ini, gue sudah merelakan. Gue bisa maju meski tanpa dia atau tanpa siapapun. Sakit akan ada, tapi itulah proses. Gue gak mau stuck dan menikmati kenikmatan sementara. Gue harus maju, memperluas pandangan bahwa hidup gak selamanya indah. Kadang yang paling menyakitkan lah yang paling baik.

Gue udah bisa maju, meski baru awal-awal. Tapi gue yakin, semakin jauh gue melangkah, semua akan menjadi semakin baik. Gue mengganti harapan gue saat ini. Dulu, harapan gue adalah 'bersama dia'. Sekarang, gue berharap gue bisa menjadi jauh lebih baik dengan adanya kejadian ini.

P.S.: makasih yah buat semua temen-temen yang udah bantu gue kemaren. Cococe (Cowok-Cowok Centil): Suryadi, Rexy, Gio, Addo, Josh. Juga buat Ivana en Tetep yang mau nenangin gue nangis. Buat Ko Annes yang mau ngasih saran panjang lebar. Buat semua orang yang udah mau dukung gue, yang mungkin gak bisa gue sebutin satu-satu karena banyak. Dan juga, buat 'dia' yang udah mau ngasih gue satu pelajaran berharga ini.

Selasa, 05 April 2011

'Wo Nan Guo'

"Udah maleeemm, ikan bobooo..." Gitu kata iklan yang sempet rame beberapa tahun yang lalu. Tapi untuk saat ini, ada kalimat yang lebih tepat lagi. "Udah maleeeemm, Nana mandiiii...." Jujur, gue belom mandi sampe sekarang.

Eits! Tapi bukan karena gue jorok en males mandi (yah, yang males mungkin bener juga kali ya). Hari ini termasuk hari yang melelahkan. Jam pelajaran ke 9 dan 10 hari ini tuh pelajaran olahraga. Ditambah dengan ekskur karate yang menanti sepulang sekolah. Plus, ada les mafiki sekitar jam 5an tadi. Mantaps.

Sekarang gue masih berbalut kaos dan celana olah raga. Semua tugas udah gue kerjain (kecuali BIOLOGI, sentimen pribadi), en sebenernya ini merupakan saat yang tepat untuk mandi. Tapiiii, gue sekarang lagi takut. Udah malem, di WC sendirian (ya iyalah, masa mau di WC banyakan). Gue punya ketakutan tersendiri sama mandi malem-malem. Jadi gue memutuskan untuk memanggil mbak gue buat nemenin gue di lantai 2.

"Mbaaaa!!!"
Tidak ada jawaban.
"Mbaaaaaaa!!!!!"
Masih tidak ada jawaban.
"Mbaaaa!!! Di mana sih?!"
"Gandeng woy!"

Tadinya gue udah siap-siap sendal jepit buat nyepret tu orang. Eh, gak tahu nya, ade gue yang teriak. Akhirnya gue simpen lagi sendal jepitnya en siap-siap ganti bazooka. Cuma, bazooka nya gue beli kredit. Berhubung si tukang kredit nya lintah darat, jadi bazooka nya meledak di tengah jalan. Oke, yang cerita tentang bazooka tadi cuma bercanda. Intinya, mbak gue juga lagi ada perlu. Gue harus menunggu.

Akhirnya gue memutuskan buat kembali ke depan layar komputer untuk ngetik satu postingan di blog. Sebenernya sih gak mutu juga isi postingan nya. Tapi ada yang mau gue share di sini.

Salah satu tugas besok adalah tugas Mandarin. Inget tentang tugas nyanyi per kelompok? Gue coba ngerekam piano dari salah satu lagu yang mau dinyanyiin besok. Judul lagunya 'Wo Nan Guo', atau dalam bahasa Indonesia nya, 'Saya Sangat Sedih'. Rekamannya sukses, udah beres dari sekitar satu jam yang lalu.

Tapi kenangan dan syair lagu itu belom berakhir sampai detik ini juga.

Waktu pertama kali gue denger ni lagu, gue langsung ngomong gini, "Wedaaann!!! Lagunya judulnya apa nih? Gila, enak banget!". Karena pengetahuan gue tentang lagu cung wen sangat minim, maka dari itu, gue mengira penyanyinya adalah Jay Chou. Gue coba search di internet, dengan ketidaktahuan gue akan penyanyi dan judul lagunya. Gitu sih, ampe gue botak juga gak akan ketemu.

Pasrah mencari, gue akhirnya minum Baygon (gak, ini bercanda, sumpah). Gue pun lupa lagunya seperti apa, liriknya kayak gimana. Dan gue memutuskan untuk berhenti mencari.

Suatu hari, gue dateng ke satu restoran sama temen-temen gue. Restoran yang cukup asik, makanannya enak, ada lagu-lagu asik juga yang diputer. Kita haha-hihi aja ala remaja-remaja gaul jaman sekarang gitu. Misalnya: "Hihihi... Ya ampun, gila ya, si Amoy jidatnya jelek banget. Hahaha. Hihihi. Muahuahahaha...". Dan tiba-tiba kita berhenti ketawa. Muka salah satu dari temen kita, yang tadinya ceria, tiba-tiba banget jadi murung. Kita tanya ada apa sama dia. Ternyata, there was something wrong with the song.

'Wo Nan Guo', atau 'Saya Sangat Sedih', saat itu diputar di dalam restoran tersebut. Temen gue ini, dia baru banget putus, en dia pun sangat fasih berbahasa Mandarin. Saat gue mencoba mendengarkan lagu itu lebih seksama lagi, ternyata itu adalah lagu yang gue cari selama ini! Gue langsung teriak histeris en kesenengan, sedangkan temen gue yang duduk di depan gue udah mau nangis (emang, gue teman yang jahat. Muahahaha). Gue, yang gak ngerti bahasanya, cuma bisa nikmatin nada lagunya. Liriknya kan cuma 'cang cing cung koncrong koncrong', en gue gak ngerti. Mungkin menceritakan tentang orang cacingan dengan perut keroncongan. *lho?

Setelah gue diceritain arti lagu itu sebenernya, gue cuma manggut-manggut doank. Biasanya, gue suka sama lagu yang liriknya ngena sama kondisi gue saat itu. Berhubung waktu itu gue lagi deket sama satu cowok, gue pun gak terlalu memperhatikan liriknya.

Suatu hari, gue harus pisah sama cowok ini. Dan kembali, gue mendengarkan lagu 'Wo Nan Guo'. Awalnya gue sangat menikmati, tapi lama-lama, hati gue pun ikut menikmati. Gue coba cari terjemahannya di internet. Gak bisa ditahan, gue pun nangis dengernya sambil baca terjemahannya (itu satu-satunya cara supaya gue ngerti apa yang lagi dinyanyiin). Liriknya pun ngena sama kondisi gue. Gue memang sangat sedih, gue sedih karena harus kehilangan dia, gue sedih karena gue terlalu egois sehingga memilih untuk melepaskan dia. Sampai sekarang pun, gue masih sedih.

Saat ini, gue masih harus mengulik lagu itu buat dinyanyiin besok. Emosi gue terbawa dalam lagu ini, seolah memaksa gue untuk kembali mengingat kebodohan gue dulu. Akhirnya pun gue sadar kalau gue bodoh udah membiarkan dia pergi. Seandainya gue pertahanin, mungkin keadaan sekarang pun gak seperti ini.

O-ow. Mbak gue udah beres perlunya. Berarti ini saatnya gue mandi! Haha... Sebagai penutup, gue mau ngutip reff dari lagu 'Wo Nan Guo'.

'wo nan guo de shi fang qi ni fang qi ai
fang qi de meng bei da shui ren zhu bei ai
wo yi wei shi cheng quan
ni que shuo ni gen bu yu kuai

wo nan guo de shi wang le ni wang le ai
jing quan li wang ji wo men zhen xing xiang ai
ye wang le gao shu ni shi qu de bu neng chong lai'

Terjemahan:

'What I am sad about is,
Letting you go, letting love go, the forsaken dreams being shattered, and enduring the sorrow
I thought I was granting your wishes
But you said you are unhappier than ever

What I am sad about is,
Forgetting you, forgetting love, and striving to forget that we have truly loved before
And forgetting to inform you that what is gone cannot be repeated'