This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 22 Desember 2012

Sweetest Age: Seventeen

Yak, gue kembali menulis postingan blog gue dengan awalan maaf karena udah terlalu lama gue membengkalaikan blog. Maafkan aku yaaa *peluk blog* Alesannya, seperti biasa, ga ada waktu, bos. Sekarang gue malah kebanyakan waktu kosong, yaitu 8 jam penuh! Dan satu-satunya hiburan gue tinggal tab tercinta tanpa internet.

Daripada melumut dan akhirnya keropos, gue memutuskan untuk baca novel. Eh, novelnya udah abis. Jadilah gue menulis blog.

Belakangan ini, gue lagi baca novel Supernova karya Dewi Lestari alias Dee. Untuk ukuran novel zaman sekarang, Supernova menghadirkan sebuah karya yang emang pendiksiannya sastra banget, sangat jauh lebih berkualitas dibandingkan novel-novel pop masa kini. Dan karena Dee juga, gue kembali teringat untuk menulis.

Oke, here's the thing.

Gue sekarang udah resmi 17 tahun, dan ternyata gue udah nulis blog selama empat tahunan. Kalo ada yang baca dari posting-posting yang dulu (yang sekarang udah dihapusin), kalian akan melihat evolusi hidup gue yang signifikan. Yah, bersyukur gue ga depresi dan akhirnya bunuh diri.

Dan apa aja yang gue dapet di umur 17 ini?

1. My only Jesus. Dia yang udah rombak total hidup gue, mulai dari fondasi sampe ke furniturnya. Dan Dia juga yang bikin gue berhenti bergantung sama manusia, karena gue tau, di dalam Dia, semua udah tersedia.

2. Keluarga tercinta. Yup, papa, mama, dan dede. Paket komplit super hemat. I love them as much as they love me.

3. Temen-temen SEMUANYA. Ada yang baru kenal 6 bulan, ada yang kenal dari umur 2 tahun, ada yang kenal tanpa pernah kenalan (jujur deh, banyak kan kejadian kayak gitu?) This is my first time to have friends like them, and I'm really glad to have them :)

Hmmm, kayaknya segini aja deh laporan dari gue. Hidup memang terlalu luar biasa untuk sekedar ditonton, lebih baik dialami. Live your life, guys!

Sabtu, 29 September 2012

Posting from My Tab :P

Hi, guys! Akhirnya gue bisa juga ngepost di tab. Huahahahah. Otomatis, gue akan lebih sering nge post di sini. Soooo, just wait for the latest post from meeee :D

Senin, 24 September 2012

New!

Dengan adanya postingan ini, maka blog babisulung.blogspot.com resmi gue tata ulang! *prok prok prok*

Okay, here's the thing.

Gue banyak menghapus postingan di blog ini. Oke, bukan banyak, tapi nyaris semua. Bukan karena gue mau bener-bener udahan nulis blog, tapi justru gue mau memulainya lagi dari awal. Setelah gue perhatiin, blog gue isinya bener-bener sampah semua. Isinya sampah, uneg-uneg hati, dan sakit hati (yah, galau deh).

Dan sekarang, blog ini sudah gue bersihkan dari sampah. Gak ada lagi complaints (life is soooo beautiful, so why do we have to complain?). Gak ada lagi sakit hati yang dibagikan di sini. Gak ada lagi debu numpuk dan sarang laba-laba. Blog ini akan jadi bersiiiiihhh! Sihh... sih... sih... *echo*

Untuk ke depannya, gue gak tahu mau nulis apaan, jujur. Selaen gak tahu materi tulisannya apa, gue juga udah jarang punya waktu kosong buat nulis. Sekarang ini gue baru banget beres mid test, jadi gue hari ini santaaaaaiiii..... (backsound: Nyanyi lagu pantaaaiii, nyanyi lagu santaaaiii)

Segini saja postingan hari ini, dan tetep tunggu postingan berikutnya ya! :D

Selasa, 18 September 2012

Laugh When You Can't Smile!

Sering kali, kita sebagai remaja-remaja SMA, ngerasa galau. Entah galau karena gak punya pacar, galau sama kecengan, galau jual ganja ketangkep di sekolah (itu sih salah sendiri). Pokoknya, apa pun alesannya, kita sering banget ngerasa galau.

Gue paling sebel kalau udah ada orang yang ngegalau di FB (yah, jujur, dulu juga gue sering banget ngegalau di FB sih :P). Banyak orang yang gak gue kenal nge-add gue. Berhubung gue orang yang ramah, baik, dan tidak sombong (baca: sangat malas untuk melihat profil-profil mereka dulu sebelum confirm), gue confirm aja semua friend requests, dengan pemikiran, kalau mereka mengganggu, bakal gue block. Simpel kan?

Emang sih, jarang banget ada yang ngeganggu ampe nge-poke tiap hari, nge-wall, atau apa pun itu. Lucunya, setiap gue buka FB, news feed-nya sering kali menampilkan status-status galau, seperti, "Hujan, aku sedih, kita sama-sama menangis." Terus yang nge-like nya bisa sampe puluhan. Cuih.

Atau misalnya yang pacaran. Pasti anak-anak seumuran gue itu bangga banget kalo punya pacar. Bawaannya pengen ke mana-mana bawa pacar buat dipamerin. Sampai-sampai, gue sering menemukan status-status remaja yang udah punya 'pacar' dan isi statusnya begini, "I luv u, honey." Banyak juga yang bahkan nama pacarnya ditulis di status, misalnya, "Aq sayang bgt sama Andi.. Luv u ndud." Dan kalo orang alay yang nulis, "ChaiAnx qU, qU mEriNduKanMoe.. Ai Lap yU.." Double cuih.

Ada juga yang baru putus sama pacarnya. Statusnya galau maksimal. Tapi ada yang lebih parah lagi. Banyak juga status yang isinya nyumpah-nyumpahin pacarnya. "Dasar cwe *piiip*! Gatau diri ya! Sampah lu! Maenin gue. Emang ya lu *piiip*!! *PIIIIIPPPP*!!!" Laen kali, Facebook kayaknya perlu menyensor kata-kata model kayak gitu.

Gue, si remaja yang baik hati dan tidak sombong *hoek*, sebenernya gak pengen galau-galau mulu. Males banget kan, di saat gue buka BB, gue galau. Pas gue bangun tidur, gue galau. Pas gue lagi mandi pake shower, gue galau. Terus pas lagi boker, gue galau. Itu ngemalesin banget.

Gue bukan si anak SMA sotoy yang jago dalam hal psikologi atau berkarakter baik ya (yah, aminin aja dulu deh :P). Tapi ngeliat sekeliling gue, gue juga gerah banget ngeliatin kegalauan yang ngejamur sana sini men! Dan juga, galau-galau gak jelas tuh menunjukkan tingkat kelabilan yang tinggi. Gak ngerti? Bahasa gue emang keren sih *tsah!*

Sedihnya, gak cuma anak-anak SMA aja yang kalau lagi galau tuh promosi ke mana-mana. Gue punya beberapa temen yang umurnya udah dari 20 tahun (FYI, gue masih 16). Entah mereka gak punya temen, entah mereka emang suka mengiklankan kegalauan mereka, mereka nulis status galau-galauan. Yang lebih parah lagi, ada juga yang galaunya maen gogok-gogokan. Gue jadi bingung, ini orang galau atau siluman dogi?

Galau is not the only way to get to maturity, it is killing your character softly instead!

Kadang gue suka sebel sama orang yang nulis status susah senyum, fake smile, bla bla bla. I mean, you are given a pair of lips to smile! Jadi bukan lagi menjadi alasan, kalo pas nyapa gak senyum. Apa pun alasan elo, mau lagi galau kek, mau kucing lo mati keinjek finalis L-Men kek, kalo gak senyum saat ketemu orang (atau mukanya jadi ada lipetan lemak), itu namanya ngasih kode buat dilemparin kacang. Serius.

Gue sangat suka serial TV Amerika yang judulnya Lie To Me. Selain tokoh Cal Lightman nya keren banget, gue juga bisa belajar sangat banyak hal dari film itu. Gue juga baru tahu dari sana, kalau ternyata yang namanya senyum itu gak ada yang palsu! Saat kita tersenyum, ga cuma bibir kita yang membentuk lengkungan, tapi ada kerutan di ujung mata kita. Gak percaya? Coba ngaca sambil senyum-senyum. Yah, paling dilaporin pembantu gara-gara dianggep miring. Jadi, jangan berusaha ngebohongin semua orang dengan 'fake smile' itu deh! Ga ada yang namanya senyum palsu.

Banyak orang yang cerita sama gue bahwa dia galau dan dia gak bisa senyum. Oke lah, galau itu emang mempengaruhi suasana hati. Tapi apakah galaumu itu menjadi berkat buat orang lain? Gak ada alesan untuk lo ga tersenyum! Sekalipun masalah seberat apa pun, senyum itu bisa menjadi kekuatan buat diri sendiri yang ditularkan kepada orang lain.  Otot-otot yang ada di wajah kita itu bisa digerakkan dan gak perlu energi yang sangat besar. You have THE power to smile!

Tapi, gimana kalo dengan semua penjelasan di atas, kita tetep gak bisa senyum?

Just laugh! Bukan tertawa yang mengejek, tapi tertawalah untuk diri sendiri. Tertawakan setiap masalah, tertawakan setiap kegalauan. Percaya deh, senyuman pasti akan ada melapisi bibir lo, setipis apa pun itu. Dan setipis apa pun senyumanmu, di situlah kekuatanmu terpancar :)

Happy smiling! If you can't, just laugh!

Jumat, 06 Januari 2012

The Comedian Taught Me

Penulis yang sangat sering gue sebutkan namanya di sini, Raditya Dika, baru saja menerbitkan bukunya yang ke-6, yaitu "Manusia Setengah Salmon". Waktu menjelang buku ini terbit, gue terus-terusan buka blog nya dia. Gue termasuk fans nya Raditya Dika. Tulisan-tulisan yang dia buat itu menampilkan komedi, pelajaran hidup, keluarga, bahkan cinta. Dan dia sukses mengemas semuanya itu dengan rapi.

Tanggal 24 Desember kemaren, gue membeli buku itu. Gue membuka dompet gue, melihat apakah masih ada uang di dompet gue. Ternyata gak sesuai yang gue takutkan. Gue ambil buku itu dari tumpukan buku-buku best seller. Gue berjalan ke kasir, menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan, dan mbak-mbak kasir itu memberi kembalian delapan ribu. Gue pun akhirnya pulang.

Gue membaca buku itu dari awal sampai akhir. Ternyata, banyak banget hal yang berbeda dari buku ini. "Manusia Setengah Salmon" terlihat lebih 'dewasa' dibandingkan dengan lima novel sebelumnya. Tetep bikin ngakak. Tapi, buku ini juga membuat gue berpikir, dan akhirnya galau.

Buku ini bercerita tentang perpindahan. Pindah rumah, pindah negara, bahkan pindah hati. Kehidupan sehari-hari yang telah mengajarkannya. Sebagai murid yang baik, dia menuliskannya dalam sebuah novel, dan membagikan pelajaran berharga bagi pembaca-pembacanya.

Saat gue membaca novel itu, gue juga baru aja patah hati. Gue suka sama satu cowok, dan karena hubungan kami yang semakin hari semakin dekat, rasa suka itu berkembang menjadi rasa sayang. Namun kenyataannya agak menyakitkan, bahwa dia sebenernya gak ada rasa sama gue. Ditambah lagi, dengan sangat tiba-tiba, gue harus gak kontak sama dia 30 hari lamanya, karena keadaan memaksa gue untuk gak suka sama dia. Well, it hurts. Harus melupakan orang yang udah bersama-sama dengan gue selama lima bulan terakhir dalam kurun waktu yang singkat. Setelah itu, gue harus bisa kembali menjadi 'normal'.

Meskipun kita udah gak boleh kontak, tetep aja banyak hal yang bikin kita kontak, atau minimal, memaksa gue untuk mengingat-ingat kenangan kita yang dulu-dulu. Setiap hari kita masih BBMan, entah lah itu komen status, curhat, atau cuma sekedar broadcast message. Tapi tetep aja, chat history gue sama dia gak ada yang bolong. Pas gue liat-liat chat history, gue selalu keinget kita gak boleh kontak selama 30 hari. Bawaannya pengen ngais-ngais tanah.

Setiap ngeliat BB, gue buka Recent Updates, hanya untuk melihat dia ganti status atau nggak. Kalau dia ganti status yang lagi seneng, dalam hati gue ngomong, "Ya ampun, mungkin dia memang lebih seneng tanpa gue". Kalau dia statusnya lagi sedih, dalam hati gue, "Ya ampun, gue pengen ngehibur dia". Kalau dia gak update status, gue mikir, "Ya ampun, dia ke mana?"

Kesimpulan: Ya ampun, gue galau.

Liburan Natal dan tahun baru di sekolah gue lumayan panjang, berlangsung hampir satu bulan. Daaann, selama satu bulan itu juga gue terus-terusan melakukan ritual yang sama: buka BB dan teriak-teriak "Ya ampun! Ya ampun!" Untungnya, di liburan kali ini, temen-temen gue gak banyak yang berlibur ke luar kota. Banyak juga yang menjamur kebosenan di rumah. Gue pergi main sama mereka, mencoba menertawakan banyak hal seolah kita gak punya masalah. Setelah kembali ke rumah, pikiran-pikiran itu kembali meracuni gue.

Akhirnya, liburan terus berlalu dengan masih adanya chat dari dia. Gue mencoba cerita sama beberapa sahabat yang gue percaya. Hampir sama semua, mereka seolah menyalahkan gue untuk komunikasi itu. Gue cuma bisa senyum dan ngomong dalam hati, "Lo gak tau gimana perasaan gue, kampret." Gimana rasanya gue begitu dekat sama dia, tapi gue harus menjadi jauh. Gimana rasanya gue harus terus bersama-sama dia, dan keadaan terus mengingatkan gue untuk menjauh. Itu nyesek. Banget.

Tiba juga hari di mana gue harus masuk sekolah. Itu berarti tiba juga hari gue ketemu sama temen-temen gue. Ada beberapa temen gue yang pergi ke luar negeri dan membawakan oleh-oleh buat gue. Ada juga temen gue yang menggendut karena kerjaan mereka waktu liburan cuma bangun-makan-tidur-makan-nonton-makan-tidur. Ada juga temen gue yang jadi item gara-gara sepulang dari Pangandaran. Agak-agak konyol sih, di saat orang-orang nyari salju saat Natal, mereka malah berjemur di pinggir pantai kayak ikan asin.

Mau gak mau, gue juga harus ketemu sama dia. Meskipun gue udah bisa mengikis perasaan gue, tapi di saat gue ngeliat dia, masih ada perasaan 'deg' di dada. Gue memaksakan bibir gue untuk tersenyum menyapa dia. Dia juga senyum liat gue. Dan pada detik berikutnya, kita sama-sama buang muka.

Gue masuk ke ruang kebaktian, ikutin kebaktian dari awal sampai akhir, dan akhirnya gue pergi sama temen-temen gue ke sekolah gue waktu SD, di SDK 1 BPK. Gue ketemu mantan guru-guru yang dulu ngajar gue. Rata-rata dari mereka masih inget sama gue dan bilang, "Wah, sekarang udah SMA ya." Gue senyam-senyum sendiri ngerasa bangga. Saat anak-anak udah pada keluar kelas dan gue masuk ke kerumunan mereka, temen gue, Daniel, ngakak kenceng-kenceng, "Na! Lo masih cocok ya jadi anak SD!" Gondok.

Gue pergi ke SD gue sama empat temen yang lain, Daniel, Maureen, Wilson, dan Edbert. Satu-satunya temen gue yang sekolah di sana juga cuma Maureen. Emang, dia itu temen gue dari gue masih minum pake empeng sampe gue udah minum tanpa bantuan apa-apa. Malahan, gue bisa minum jarak jauh sekarang. Kalau ada temen gue yang ngelempar air ke gue, gue langsung mangap en gue telen. Nggak, nggak, yang terakhir gue bercanda.

Kita berempat (Edbert udah pulang duluan) jalan-jalan keliling sekolah. Sekarang jumlah ruangan kelasnya bertambah. Dekorasi gedungnya juga udah semakin bagus. Lokasi kantin sekarang juga pindah. Gue melihat anak-anak cowok lari-lari di lapangan main bola, termasuk adik gue. Ternyata, udah lima tahun gue meninggalkan tempat ini. Dalam waktu lima tahun tersebut, cukup banyak yang berubah.

Gue melihat Maureen dan Wilson bergandengan tangan. Sahabat gue yang gue kenal waktu masih suka ngompol, sekarang udah punya pacar. Gue dan Daniel ngobrolin hal-hal yang terjadi beberapa hari ini. Gue kenal sama Daniel sejak masuk SMA, dan gue jadi deket sama dia karena dia itu mantannya temen deket gue.

Sesampainya kita di rumah masing-masing, berarti kita juga menjalani kegiatan kita lagi masing-masing. Gue masuk kamar, tidur siang sebentar, dan gue bersiap-siap pergi lagi ke tempat les. Di perjalanan, gue melihat jam di mobil. Setiap satu menit, jam digital itu menambah satu angka. Bahkan, sampai gue turun dari mobil pun, angka itu tidak berhenti bertambah.

Tanpa sadar, setiap detiknya gue bertambah tua. Seharusnya, setiap detiknya gue bertambah dewasa. Tentu saja, gue harus melepaskan beberapa masa lalu gue yang memang menghambat pendewasaan gue. Masih banyak hal-hal di masa lalu yang membuat gue salah respon sehingga gue bersikap seperti anak kecil.

Gue iseng-iseng membaca kembali novel 'Manusia Setengah Salmon' pada bab terakhir. Bagaimana Dika bertemu dengan teman-teman SMA nya yang udah gendong anak. Bagaimana dia menemukan seseorang yang tepat baginya. Dan semua itu butuh proses, atau di buku ini disebut dengan PERPINDAHAN.

Kita harus berani pindah untuk meraih sesuatu yang baru. Beberapa hari yang lalu, kita udah pindah tahun. Di tahun lalu, gue mengalami pindah hidup, di mana gue akhirnya memutuskan untuk hidup dengan benar. Gue juga pindah sahabat, di saat sahabat-sahabat gue pergi, gue mendapat sahabat-sahabat yang baru. Gue pun sempet mengalami pindah kelas dua kali. Pertama waktu gue keluar aksel dan masuk ke reguler, kedua waktu gue naik ke kelas XI.

Sekarang, yang gue mesti lakukan mungkin 'pindah hati'. Yang tadinya gue galau-galauin cowok yang gak pernah mikirin gue, sekarang gue harus lebih memfokuskan hati gue kepada hal-hal yang lebih penting. Gue juga sudah harus bisa 'pindah kebiasaan', yang biasanya gue menunggu dia update status, sekarang gue udah harus menghentikan kebiasaan itu dan menggantinya dengan hal yang baru dan lebih berguna.

Gue kembali melihat BB. Tanpa sengaja, gue melihat contact dia lagi. Gue menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Jujur, ini gak mudah bagi gue. Gue berdoa, mendoakan perasaan kecewa gue yang gak kunjung ilang. Mendoakan dia, supaya dia bisa bahagia. Meskipun setelah 30 hari ini kita bisa kembali menjadi dekat lagi, tapi kalau perasaan gue belom diberesin, ini bisa menjadi gawat.

Akhirnya, gue mencari tombol 'delete', dan gue memutuskan untuk men-delete kontaknya sementara waktu. Agak terkesan lebay memang, tapi gue ingin 30 hari ini tidak menjadi sia-sia. Gue pengen pindah, dan gue gak bisa kalau gue terus menerus diperhadapkan dengan dia. Dia mungkin bisa, tapi tidak dengan gue.

Pada hari ini, gak ada satu pun BBM dari dia. Jelas lah, karena kontak udah dihapus. Sakit sih, tapi hidup terus berjalan. Dan itulah yang berusaha gue lakukan, PINDAH.

Trims, Raditya Dika, udah ngingetin betapa pentingnya kita move on :)

Sabtu, 10 Desember 2011

What Love Is

Salah satu orang yang menginspirasi gue dalam membuat blog adalah Raditya Dika. Personally, gue kagum sama semua tulisannya. Sekalipun dia menampilkan humor dalam tulisan-tulisannya, itu tidaklah garing dan 'agak menemplak'. Dan gue banyak belajar menulis dari dia.

Gue pernah membaca salah satu post di blog nya. "Kata orang, kalo mau ngeblog, tulislah perasaan paling kuat yang lagi kamu rasakan." Mungkin itu bisa gue lakukan, karena gue adalah salah satu tipe orang yang cukup ekspresif dalam tulisan. Dan lagi, gue sekarang sedang merasakan sesuatu yang kuat banget.

Yak, saya lagi jatuh cinta. Objection?

Gue kembali jatuh cinta kepada seseorang. Seperti biasa, gue gak bisa mengungkapkan kecintaan gue itu sama dia. Daaann, seperti biasa juga, gue hanya bisa memendam perasaan itu sendirian, berharap dia tahu sendiri tanpa gue perlu memberitahu.

Nnnggg... Sejujurnya, gue bukanlah cewek yang romantis. Seperti yang kalian sudah tahu, gue cewek yang agak 'aut-autan'. Gue melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak hati gue. Kalau gue pengen kerja, gue bisa kerja semalem suntuk. Kalau gue lagi pengen maen, gue bisa maen ampe kenyang. Kalau gue pengen makan, sehari gue bisa makan sampe 6x (yah, wajar kalau gitu gue berbadan sebesar ini). Kalau gue pengen jadi astronot, gue tinggal loncat dari atap berusaha mencapai bintang. Oke, oke, yang terakhir gue bercanda. Kalau gue menulis post ini, itu juga karena keinginan hati.

Kalau disuruh mengungkapkan apa yang gue rasain, mungkin ini kali ya yang keluar:

"I love you. I love our togetherness. I love your gesture when you tell your stories. I love the way you express your feeling. I love your hospitality. I love the way you help others, when they need your help. I love you when you're crying in front of me, just like you believe me heartily. I love the way you hug me and tell me "It's okay", even I know everything's wrong.

However, I was a bit shocked when you told me not to contact each other for so long. Well, it's killing me these days, but we gotta move on. I know that we can be together again later, as besties. Perhaps, I just don't want to lose you, not anymore. A friend like you is impossible to find.

Hey, my friend, am I important to you, or am I just like another of yours? I only know one thing, you are one of my most important people in my life. First, God. Second, my family. Third, you.

Is there any way for us to get back to the old days?
I'm missing it so badly.
Are you praying for me?
Do you miss me?
Do you often cry in midnight, like I do?

Or...

Are you happy now?
Do you have your sleeping time longer?
Do you enjoy your life better?

I just wanna normalize my feeling before it's too late. Well, our focus is distracted. It's best for us probably. Loving and serving God is number one. Loving you is... I don't know, it isn't in my top ten, but it's annoying to have it because I only see you everywhere I stare.

Thanks for teaching me what love is. Now I understand. Love is about caring, understanding, feeling, sensing. I care about you. I understand why you make this decision. I feel a lot. I sense so much.

Promise me one thing. I'm still your best friend, ain't I?"

Mungkin itu yang akan keluar kalau gue harus mengeluarkan semuanya. Huohohoho... Sedikit jibang ya? Yah, harap maklum, saya bukan penulis puisi cinta, saya penulis catatan biologi. *lho

Segini aja mungkin dari gue. Hehe. Selamat membaca dan kembali beraktivitas :D

P.S.: Tolong, jangan berpikiran macam-macam saat gue menulis semua ini. Ini cuma ungkapan pikiran gue selama ini, dan gue hanya ingin membagikannya kepada kalian. Salam cantik.