This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 10 Desember 2011

What Love Is

Salah satu orang yang menginspirasi gue dalam membuat blog adalah Raditya Dika. Personally, gue kagum sama semua tulisannya. Sekalipun dia menampilkan humor dalam tulisan-tulisannya, itu tidaklah garing dan 'agak menemplak'. Dan gue banyak belajar menulis dari dia.

Gue pernah membaca salah satu post di blog nya. "Kata orang, kalo mau ngeblog, tulislah perasaan paling kuat yang lagi kamu rasakan." Mungkin itu bisa gue lakukan, karena gue adalah salah satu tipe orang yang cukup ekspresif dalam tulisan. Dan lagi, gue sekarang sedang merasakan sesuatu yang kuat banget.

Yak, saya lagi jatuh cinta. Objection?

Gue kembali jatuh cinta kepada seseorang. Seperti biasa, gue gak bisa mengungkapkan kecintaan gue itu sama dia. Daaann, seperti biasa juga, gue hanya bisa memendam perasaan itu sendirian, berharap dia tahu sendiri tanpa gue perlu memberitahu.

Nnnggg... Sejujurnya, gue bukanlah cewek yang romantis. Seperti yang kalian sudah tahu, gue cewek yang agak 'aut-autan'. Gue melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak hati gue. Kalau gue pengen kerja, gue bisa kerja semalem suntuk. Kalau gue lagi pengen maen, gue bisa maen ampe kenyang. Kalau gue pengen makan, sehari gue bisa makan sampe 6x (yah, wajar kalau gitu gue berbadan sebesar ini). Kalau gue pengen jadi astronot, gue tinggal loncat dari atap berusaha mencapai bintang. Oke, oke, yang terakhir gue bercanda. Kalau gue menulis post ini, itu juga karena keinginan hati.

Kalau disuruh mengungkapkan apa yang gue rasain, mungkin ini kali ya yang keluar:

"I love you. I love our togetherness. I love your gesture when you tell your stories. I love the way you express your feeling. I love your hospitality. I love the way you help others, when they need your help. I love you when you're crying in front of me, just like you believe me heartily. I love the way you hug me and tell me "It's okay", even I know everything's wrong.

However, I was a bit shocked when you told me not to contact each other for so long. Well, it's killing me these days, but we gotta move on. I know that we can be together again later, as besties. Perhaps, I just don't want to lose you, not anymore. A friend like you is impossible to find.

Hey, my friend, am I important to you, or am I just like another of yours? I only know one thing, you are one of my most important people in my life. First, God. Second, my family. Third, you.

Is there any way for us to get back to the old days?
I'm missing it so badly.
Are you praying for me?
Do you miss me?
Do you often cry in midnight, like I do?

Or...

Are you happy now?
Do you have your sleeping time longer?
Do you enjoy your life better?

I just wanna normalize my feeling before it's too late. Well, our focus is distracted. It's best for us probably. Loving and serving God is number one. Loving you is... I don't know, it isn't in my top ten, but it's annoying to have it because I only see you everywhere I stare.

Thanks for teaching me what love is. Now I understand. Love is about caring, understanding, feeling, sensing. I care about you. I understand why you make this decision. I feel a lot. I sense so much.

Promise me one thing. I'm still your best friend, ain't I?"

Mungkin itu yang akan keluar kalau gue harus mengeluarkan semuanya. Huohohoho... Sedikit jibang ya? Yah, harap maklum, saya bukan penulis puisi cinta, saya penulis catatan biologi. *lho

Segini aja mungkin dari gue. Hehe. Selamat membaca dan kembali beraktivitas :D

P.S.: Tolong, jangan berpikiran macam-macam saat gue menulis semua ini. Ini cuma ungkapan pikiran gue selama ini, dan gue hanya ingin membagikannya kepada kalian. Salam cantik.

Kamis, 01 Desember 2011

Lazy Day

"Today I don't feel like doing anything, I just wanna lay in my bed"

Lagu ini cocok banget jadi soundtrack gue hari ini tuh! Gue hari ini gak sekolah karena gue sakit kepala dari kemaren. Akhirnya ada waktu juga untuk bersantai di rumah, menikmati empuknya kasur, dan akhirnya nge-blog! *applause* Berarti kudu nunggu sakit dulu, baru bisa nge-blog. Pret.

Yah, sekalipun gue hari ini seharian di rumah, tetep aja gue gak jauh dari yang namanya kerjaan. Ada tugas seni rupa (di mana gue menggambar semua hampir mirip kayak bangkai semut), bikin naskah drama (2 biji!), dan masih banyaaaakk lagi. Alhasil, blog gue jadi terbengkalai. Maafkan aku, blog. *ngelus monitor*

Gak penting sih sebenernya postingan gue yang sekarang. Karena gue juga gak tahu mau nulis apa. Tapi yang pasti, hari-hari ini tuh sangatlah spesial. Banyak banget yang terjadi, as it used to be. Hanya aja, sekarang waktu untuk nulis makin terbatas.

Kesimpulannya... Gak ada kesimpulan sih.

Maap nyampah.

Senin, 27 Juni 2011

Such Meaningful Eight Days (for me)

Di dunia ini, ada empat jenis cerita. Yang pertama, cerita yang tidak ingin diceritakan dan tidak ada paksaan untuk diceritakan. Yang kedua, cerita yang selalu ingin diceritakan dan memang harus diceritakan, karena ada pendengarnya. Yang ketiga, cerita yang tidak ingin diceritakan tapi harus untuk cerita. Yang paling menyesakkan adalah yang keempat, cerita yang sangat ingin diceritakan, tapi tidak tahu harus cerita kepada siapa.

Jujur, gue lagi mengalami hal itu. Bagi gue, seseorang yang sangat extrovert, menjadi lebih tertutup adalah hal yang sulit. Gak selamanya gue bisa bergantung sama orang lain atau sama blog ini. Banyak banget faktor pendukungnya, waktu, masalah yang terlalu berat, dan masih banyak lagi. Hanya saja, gak semudah itu juga membawa masalah itu sendirian. Tapi kalau gue terus begitu, gue akan menjadi rapuh.

Gue gak bisa cerita apa pun sekarang. Tapi gue mau berterimakasih sama seseorang yang dulu pernah pergi dan sekarang kembali lagi. Sekalipun hubungannya gak bisa pulih sepenuhnya, tapi ini sudah lebih dari cukup bagi gue.

Hey, ndud, we're friends, right?

Minggu, 01 Mei 2011

Suddenly, I Fell in Love Ridiculously

Kematian Ivy, anjing gue, perlahan-lahan bisa gue terima. Mungkin awalnya, itu merupakan satu pukulan telak buat gue. Tapi lama-lama, gue bisa menerima itu dengan lapang dada.

Okeh, sekarang saatnya gue bercerita tentang hal lain. Yang mungkin akan sangat-sangat tidak penting (seperti sedia kala). Tapi ketidakpentingan itu lah yang bikin gue senang menulis semua postingan di blog ini.

Hari Jumat kemarin, gue kembali jatuh cinta. Bukan sama orang yang udah gue sebutin di blog gue atau seseorang yang pernah muncul di kehidupan gue. Tapi gue jatuh cinta kepada 'seseorang' yang exist di negara kita. Untuk menjangkau dia, jelas bukan merupakan hal yang mudah.

Gue pergi ke suatu restoran di Bandung yang udah terkenal cozy dan jazzy. Jelas, untuk pergi ke sana, gue ma temen-temen udah planning dari satu bulan sebelumnya. Dan di bulan sebelumnya, ada kejadian konyol.

Gue: Bel! Tanggal 29 pergi yu! Kita nonton.
Yobel (korban gue): Hayu! Tanggal 29 kapan?
Gue: Kalau gak salah sih Maret.
Yobel: Bayar gak?
Gue: Kayaknya mah gratis.

Berbekal niat dan dompet kosong, kita semangat banget buat pergi en nonton. Kebetulan, rumah Yobel deket banget sama restoran yang kita mau tuju. Sehari sebelumnya, gue minta Yobel survey dulu, buat mastiin bener gak ada acara itu. Soalnya acara sebesar itu gak ada spanduknya. Gue ma temen-temen yang laen juga jadi pada bingung.

Gue: Bel, gimana?
Yobel: 29 April woy. Terusnya buat nonton, kudu bayar 200rebu.

Wrong information from me.

Gue pun memutuskan untuk beli tiketnya (yang mahal wedan gitu) karena event seperti ini emang jarang banget diadain. Jadilah gue nekad dan nonton.

Hari-hari sebelum tanggal 29 April begitu suram. Kerjaan gue cuma bete dan kesel. Ditambah lagi banyak pikiran. Gue sampe lupa ada event tersebut kalau gak Yobel ingetin. Dan akhirnya, hari itu datang.

Sebenernya, hari itu gue bener-bener capek. Bayangin aja, dari jam 6 gue udah ninggalin rumah buat pergi ke sekolah. Pulangnya gue mau latihan. Udah gitu mau fitness (ditambah dengan satu insiden menyebalkan). Barulah gue pergi untuk nonton. Ngebayanginnya aja udah capek banget. Tapi mau gimana lagi, gue udah kepalang bayar tiket.

Jam 7 malem, acaranya mulai. Gue udah duduk di meja yang kita pesen jauh-jauh hari. Band yang gue tunggu pun baru tampil jam setengah 9. Sebelum acara mulai, gue nyolong-nyolong difoto di atas panggung dengan pura-pura maen keyboard di sana (muahuahahaha). Band awal sih band dari restorannya. Itu pun udah bagus. Gue gak kebayang gimana kerennya band yang udah bikin gue kehilangan 200rebu.

Jam setengah 9 pun tiba. Gue menunggu sambil makan malam yang udah disediakan di sana. Band nya pun akhirnya muncul. Beberapa temen gue ada yang langsung duduk depan panggung. Norak, pikir gue.

Dan gue gak menyangka kalau gue bisa jadi lebih norak.

Di band tersebut, orang-orang paling banyak tahu tentang drummer nya. Hell, gue sebenernya gak tahu apa-apa juga. Setelah semua personil menempati posisinya, gue celingukan. Gue penasaran, siapa sih yang maen keyboard nya. Gue pun berdiri dan jalan ke arah keyboardist nya. Gue cuma bisa bengong. Edan. Cakep. Abis.

Gue langsung heboh. Keyboardist nya bener-bener cakep! (mulai sekarang, kita panggil dia Mr. K). Gue masih berdiri tepat di sebelah dia. Gue pengen liat teknik dia bermain keyboard.

Saat lagu udah dimainkan dan keahlian dia ditampilkan, gue cuma bisa bengong dengan tampang tolol. Gue yakin dia gak belajar klasik. Teknik dia jauh dari teknik yang klasik pernah ajarin. Tapi teknik dia jauuuuhhh lebih keren dari pada itu. Dan cara dia menghayati lagu. Gue gak pernah ngeliat orang maen piano sampe menghayati kayak dia. Dia gak jarang mengangguk-angguk kepalanya. Kaki kirinya menghentak-hentak mengikuti ketukan. Dia juga sering tersenyum kalau dia buat kesalahan. Dan itu sangat keren di mata gue.

Sekalipun norak, gue nekad duduk di depan panggung (baca: ngaleseh). Baru pertama kali gue nonton band jazz sedekat ini. Dan ini lah yang bikin gue ngerasa deket sama dia. Gue gak tahu gimana perasaan dia. Mungkin dia juga gak tahu kalau gue terus-terusan menatap dia.

I really fell for him.

Akhirnya, encore pun dimainkan. Gue udah sepakat sama temen-temen gue buat nyegat pemain-pemainnya buat foto bareng. Gue udah bener-bener pengen buat nyegat Mr. K itu.

Gue langsung jalan ke tempat keyboard. Pengen banget ngajak kenalan, tapi gue gak berani. Gue manggil nama dia pelan-pelan, tapi kayaknya dia gak dengar. Gue pun memanggil dia sekali lagi lebih kencang, dia terlanjur pergi. Saat gue mau nyusul dia, gue terjebak di tengah kerumunan yang minta foto bareng sama drummer nya. Karena gue gak mau rugi, gue pun nyelip buat foto bareng ma drummer itu :P

Satu-satunya penyesalan gue cuma itu. Gue gagal buat ngajak dia kenalan. Padahal mungkin kalau kenalan, gue bisa share banyak hal sama dia.

Apakah mungkin gue bisa ketemu lagi sama dia? Gue rindu ngeliat permainan dia, penghayatan dia, dan semua hal yang udah bikin gue jatuh hati.

Lucu ya, di saat gue kembali jatuh cinta, ternyata menjadi sangat tidak realistis.

Minggu, 24 April 2011

Our Little Puppy



Gue sekeluarga baru beli dogi kecil dari ras mini pom. Alesannya sih simple, kita mau ngasih ade ke dogi gue yang dulu, Diva. Kita pun menargetkan untuk beli dogi yang bener-bener lucu, putih, dan menggemaskan. Mulai dari online shop, pet shop, sampe kenalan-kenalan ditanyain mengenai penjualan anjing mini pom yang lucu ini.

Sampai satu hari, kita menemukan satu dogi mini pom yang lucu banget di internet. Langsung kita beli saat itu juga. Tapi ada satu hal yang kita lupakan, umur dia masih satu setengah bulan. Yah, kita pikir gak pa-pa lah ya, kan udah dijual, berarti udah tenang en gak akan apa-apa.

Hari Selasa kemaren, kita pun ambil dogi itu dan kita kasih nama Ivyena, atau kita panggil Ivy (iye, namanya lagi-lagi lebih bagus dari gue). Kita bawa pulang, and as usual, tu dogi jadi perebutan orang serumah. Dan yang lebih culunnya, Ivy, si dogi segede sukro, ngejer-ngejer Diva yang ukurannya udah jauh lebih gede. Kita yang ngeliatnya udah cengok.

Singkat cerita, kondisi Ivy melemah. Dia terus-terusan muntah en boker, tanpa makan. Badan dia pun melemah terus-terusan. Tiga hari berturut-turut kita udah bawa ke klinik hewan demi kesembuhan dia.

Hari ini, gue, adik, dan bokap pergi ke Lembang buat kebaktian padang dalam rangka Paskah. Nyokap gue ngurus Ivy, karena emang kondisi dia udah lemah banget. Dia terus-terusan tidur en gak mau bangun. Sampai jam 8, napasnya udah satu-satu. Ivy akhirnya dibawa lagi ke klinik hewan dan dikasih oksigen.

Gue baru bisa nengok dia jam 4. Kita pun pergi ke sana sekeluarga. Dan memang baru pertama kali kita ke klinik hewan sekeluarga. Biasanya cuma bertiga atau berdua.

Sesampai di sana, kita ngeliat Ivy udah tergeletak dengan infus. Badannya udah gak bisa bangun. Ternyata itu virus distemper. Awalnya kita berharap dia bisa sembuh. Tapi setelah liat kondisinya, harapan itu pun hilang.

Satu persatu kita datengin Ivy. Semua ngucapin semangat supaya dia bisa bertahan hidup. Gue pegang perutnya, masih napas. Gue masih tahan nangis, sedangkan nyokap gue udah gak bisa nahan, karena emang nyokap yang paling banyak ngurus Ivy. Pas gue mau gendong, dia kayak udah gak ada tenaga sama sekali, bahkan untuk dia negakin kepalanya.

Saat dia dikasih obat, kayaknya dia kesedak. Gue ngeliat dia bergerak ngulet. Gue sempet seneng, karena akhirnya dia bergerak. Tapi itu salah.

Di sana lah napas terakhir dia dihembuskan.

Di depan mata kita berempat sekeluarga, dia pun akhirnya pergi. Gue langsung ambil dan gendong dia. Badannya udah lunglai dan memang gak bernyawa. Matanya masih terbuka, seolah masih berharap buat hidup. Dan begitu juga harapan kita.

Ivy dikubur di depan klinik hewan itu karena di rumah gue gak ada tanah. Dan kita relakan, mungkin memang seharusnya begitu.

Ivyudah membawa kebahagiaan buat keluarga. Kelincahan dia di hari pertama, kelucuan dan kebulatan dia. Semua masih terekam dan membuat dirinya tetap menjadi anak anjing kami.

Goodbye, Ivy, and forget us not.


Jumat, 15 April 2011

Back to Dance

Jujur, sebenernya gue nulis di blog juga gak kepikiran mau nulis apa. Belakangan ini, gak ada yang terlalu spesial untuk diceritain sebenernya. Semua biasa aja, selaen bersin-bersin dan batuk-batuk. Sial, gue flu lagi.

Mungkin ada satu yang bisa gue ceritain.

Gue berencana untuk dance lagi. Kali ini, grupnya terdiri dari tujuh orang. Dan belakangan ini, gue lagi rajin-rajinnya mencari gerakan buat dance, ditambah juga dengan lagu-lagunya. Sejujurnya, gue sangat excited pas gue tahu gue bisa dance lagi. Tapi sejujurnya pula, gue gak tahu gimana harus ngungkapin itu semua dengan tulisan. Maklum, saya penulis cerita galau :P

Kayaknya cuma segini deh yang bisa gue ceritain. Haha... See ya, guys!

Sabtu, 09 April 2011

Fall, Cry, Take A Deep Breath, Move On

Sejujurnya, belakangan ini gue down, bener-bener jatoh banget. Emang sebenernya masalahnya gak gede. Tapi ada pepatah yang ngomong, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Awalnya sedikit, makin lama makin gede. Terus ditambahin sama yang paling gede. Lalu, DUAR! Meledak semua dalam satu waktu.

Gue cuma akan cerita salah satu nya. Inget tentang 'harapan' yang pernah gue omongin beberapa postingan yang lalu. Hell, itu ternyata hanya harapan palsu yang gue dapet. Entah harus berapa lama gue ngebohongin diri gue sendiri kalau dia emang buat gue. Saat gue udah tahu apa yang sebenernya terjadi, pilihan gue cuma dua: tetap berharap dan kasih makan harapan itu, atau gue berhenti.

Gue pun memutuskan untuk berhenti. Emang sih, semua hal mungkin selama ada harapan. The question is, apakah gue akan bahagia nanti setelah bisa jadi sama dia? Mungkin aja nanti semua akan berjalan lebih buruk dari yang gue harapkan. Gue emang gak mau pesimis, tapi gue harus realistis. Melihat apa yang udah terjadi sampai saat ini, semua bener-bener ironis. Mungkin keberadaan gue sangat lah tidak penting, atau mungkin mengganggu. It's better for me to go.

Kadang, suara hati memang gak selamanya benar.

Siapa bilang gue gak sedih dengan keputusan gue? Gue sedih banget. Bahkan, gue bisa sampe nangis seharian (karena masalah yang laen juga tentunya). Gue tiba-tiba meledak kayak granat. Tinggal kena goncangan sedikit, langsung meledak.

Rasanya gue pengen ubah keputusan gue. Tapi kalau gue ubah keputusan, berarti keadaan harus berubah. Masalahnya, gimana caranya gue merubah keadaan yang sudah sangat tidak memungkinkan? Karena itu, gue perlu untuk berpikir dahulu sebelum bersikap. Keputusannya memang tidak menyenangkan, tapi mau gimana lagi? Begitulah satu-satunya cara gue untuk menjadi dewasa.

Setelah satu hari gue nangis, gue gak boleh terus-terusan terpuruk. Gue harus bisa me-refresh semua nya. Gue harus bangkit dan maju. Tapi tentu aja, gue yang udah abis kekuatan, perlu menambah kekuatan gue dulu. Kan aneh juga, kemarennya gue nangis, besoknya gue langsung ceria loncat-loncat. Yang ada gue langsung disetrum en dimasukin ke Riau 11.

Gue perlu waktu untuk berpikir en menenangkan diri. Tarik napas dalam-dalam. Lari dari rutinitas adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Kadang, jalan-jalan sendirian, window shopping barang yang mahal-mahal (gue gak mungkin beli, cuma liat-liat), baca novel sambil denger musik, semua itu sering kali membantu gue untuk tenang dulu dan akhirnya kembali melangkah.

Dari semua yang bisa nenangin gue, cuma satu hal yang paling suka gue lakuin: makan J.Cool sambil baca novel atau menulis aransemen lagu. Itu biasanya membuat pikiran gue melayang jauh banget, membuat gue berimajinasi positif. Gue gak usah mikirin dia, atau teman-teman yang menyebalkan, rutinitas yang membosankan. Cukup hanya gue, yoghurt, novel dan musik, en tempat cozy dengan iringan suara mesin pembuat kopi. Itu sangat lah menenangkan.

Saat gue mengambil langkah pertama untuk maju, rasanya berat banget en pengen banget untuk mundur lagi ke belakang, menikmati fantasi dan harapan gue bersama dia. Tapi gue sadar, gue harus maju en melangkah ke depan. Akhirnya gue mengambil langkah kedua, not bad. Langkah ketiga pun gue ambil lagi, perasaan mulai tenang. Langkah keempat, gue sudah mulai mantap. Langkah kelima, hati gue dan jiwa gue udah setuju, gue harus pergi. Langkah keenam, gue bernapas lega dan melangkah lebih cepat.

Dan saat ini, gue sudah merelakan. Gue bisa maju meski tanpa dia atau tanpa siapapun. Sakit akan ada, tapi itulah proses. Gue gak mau stuck dan menikmati kenikmatan sementara. Gue harus maju, memperluas pandangan bahwa hidup gak selamanya indah. Kadang yang paling menyakitkan lah yang paling baik.

Gue udah bisa maju, meski baru awal-awal. Tapi gue yakin, semakin jauh gue melangkah, semua akan menjadi semakin baik. Gue mengganti harapan gue saat ini. Dulu, harapan gue adalah 'bersama dia'. Sekarang, gue berharap gue bisa menjadi jauh lebih baik dengan adanya kejadian ini.

P.S.: makasih yah buat semua temen-temen yang udah bantu gue kemaren. Cococe (Cowok-Cowok Centil): Suryadi, Rexy, Gio, Addo, Josh. Juga buat Ivana en Tetep yang mau nenangin gue nangis. Buat Ko Annes yang mau ngasih saran panjang lebar. Buat semua orang yang udah mau dukung gue, yang mungkin gak bisa gue sebutin satu-satu karena banyak. Dan juga, buat 'dia' yang udah mau ngasih gue satu pelajaran berharga ini.

Selasa, 05 April 2011

'Wo Nan Guo'

"Udah maleeemm, ikan bobooo..." Gitu kata iklan yang sempet rame beberapa tahun yang lalu. Tapi untuk saat ini, ada kalimat yang lebih tepat lagi. "Udah maleeeemm, Nana mandiiii...." Jujur, gue belom mandi sampe sekarang.

Eits! Tapi bukan karena gue jorok en males mandi (yah, yang males mungkin bener juga kali ya). Hari ini termasuk hari yang melelahkan. Jam pelajaran ke 9 dan 10 hari ini tuh pelajaran olahraga. Ditambah dengan ekskur karate yang menanti sepulang sekolah. Plus, ada les mafiki sekitar jam 5an tadi. Mantaps.

Sekarang gue masih berbalut kaos dan celana olah raga. Semua tugas udah gue kerjain (kecuali BIOLOGI, sentimen pribadi), en sebenernya ini merupakan saat yang tepat untuk mandi. Tapiiii, gue sekarang lagi takut. Udah malem, di WC sendirian (ya iyalah, masa mau di WC banyakan). Gue punya ketakutan tersendiri sama mandi malem-malem. Jadi gue memutuskan untuk memanggil mbak gue buat nemenin gue di lantai 2.

"Mbaaaa!!!"
Tidak ada jawaban.
"Mbaaaaaaa!!!!!"
Masih tidak ada jawaban.
"Mbaaaa!!! Di mana sih?!"
"Gandeng woy!"

Tadinya gue udah siap-siap sendal jepit buat nyepret tu orang. Eh, gak tahu nya, ade gue yang teriak. Akhirnya gue simpen lagi sendal jepitnya en siap-siap ganti bazooka. Cuma, bazooka nya gue beli kredit. Berhubung si tukang kredit nya lintah darat, jadi bazooka nya meledak di tengah jalan. Oke, yang cerita tentang bazooka tadi cuma bercanda. Intinya, mbak gue juga lagi ada perlu. Gue harus menunggu.

Akhirnya gue memutuskan buat kembali ke depan layar komputer untuk ngetik satu postingan di blog. Sebenernya sih gak mutu juga isi postingan nya. Tapi ada yang mau gue share di sini.

Salah satu tugas besok adalah tugas Mandarin. Inget tentang tugas nyanyi per kelompok? Gue coba ngerekam piano dari salah satu lagu yang mau dinyanyiin besok. Judul lagunya 'Wo Nan Guo', atau dalam bahasa Indonesia nya, 'Saya Sangat Sedih'. Rekamannya sukses, udah beres dari sekitar satu jam yang lalu.

Tapi kenangan dan syair lagu itu belom berakhir sampai detik ini juga.

Waktu pertama kali gue denger ni lagu, gue langsung ngomong gini, "Wedaaann!!! Lagunya judulnya apa nih? Gila, enak banget!". Karena pengetahuan gue tentang lagu cung wen sangat minim, maka dari itu, gue mengira penyanyinya adalah Jay Chou. Gue coba search di internet, dengan ketidaktahuan gue akan penyanyi dan judul lagunya. Gitu sih, ampe gue botak juga gak akan ketemu.

Pasrah mencari, gue akhirnya minum Baygon (gak, ini bercanda, sumpah). Gue pun lupa lagunya seperti apa, liriknya kayak gimana. Dan gue memutuskan untuk berhenti mencari.

Suatu hari, gue dateng ke satu restoran sama temen-temen gue. Restoran yang cukup asik, makanannya enak, ada lagu-lagu asik juga yang diputer. Kita haha-hihi aja ala remaja-remaja gaul jaman sekarang gitu. Misalnya: "Hihihi... Ya ampun, gila ya, si Amoy jidatnya jelek banget. Hahaha. Hihihi. Muahuahahaha...". Dan tiba-tiba kita berhenti ketawa. Muka salah satu dari temen kita, yang tadinya ceria, tiba-tiba banget jadi murung. Kita tanya ada apa sama dia. Ternyata, there was something wrong with the song.

'Wo Nan Guo', atau 'Saya Sangat Sedih', saat itu diputar di dalam restoran tersebut. Temen gue ini, dia baru banget putus, en dia pun sangat fasih berbahasa Mandarin. Saat gue mencoba mendengarkan lagu itu lebih seksama lagi, ternyata itu adalah lagu yang gue cari selama ini! Gue langsung teriak histeris en kesenengan, sedangkan temen gue yang duduk di depan gue udah mau nangis (emang, gue teman yang jahat. Muahahaha). Gue, yang gak ngerti bahasanya, cuma bisa nikmatin nada lagunya. Liriknya kan cuma 'cang cing cung koncrong koncrong', en gue gak ngerti. Mungkin menceritakan tentang orang cacingan dengan perut keroncongan. *lho?

Setelah gue diceritain arti lagu itu sebenernya, gue cuma manggut-manggut doank. Biasanya, gue suka sama lagu yang liriknya ngena sama kondisi gue saat itu. Berhubung waktu itu gue lagi deket sama satu cowok, gue pun gak terlalu memperhatikan liriknya.

Suatu hari, gue harus pisah sama cowok ini. Dan kembali, gue mendengarkan lagu 'Wo Nan Guo'. Awalnya gue sangat menikmati, tapi lama-lama, hati gue pun ikut menikmati. Gue coba cari terjemahannya di internet. Gak bisa ditahan, gue pun nangis dengernya sambil baca terjemahannya (itu satu-satunya cara supaya gue ngerti apa yang lagi dinyanyiin). Liriknya pun ngena sama kondisi gue. Gue memang sangat sedih, gue sedih karena harus kehilangan dia, gue sedih karena gue terlalu egois sehingga memilih untuk melepaskan dia. Sampai sekarang pun, gue masih sedih.

Saat ini, gue masih harus mengulik lagu itu buat dinyanyiin besok. Emosi gue terbawa dalam lagu ini, seolah memaksa gue untuk kembali mengingat kebodohan gue dulu. Akhirnya pun gue sadar kalau gue bodoh udah membiarkan dia pergi. Seandainya gue pertahanin, mungkin keadaan sekarang pun gak seperti ini.

O-ow. Mbak gue udah beres perlunya. Berarti ini saatnya gue mandi! Haha... Sebagai penutup, gue mau ngutip reff dari lagu 'Wo Nan Guo'.

'wo nan guo de shi fang qi ni fang qi ai
fang qi de meng bei da shui ren zhu bei ai
wo yi wei shi cheng quan
ni que shuo ni gen bu yu kuai

wo nan guo de shi wang le ni wang le ai
jing quan li wang ji wo men zhen xing xiang ai
ye wang le gao shu ni shi qu de bu neng chong lai'

Terjemahan:

'What I am sad about is,
Letting you go, letting love go, the forsaken dreams being shattered, and enduring the sorrow
I thought I was granting your wishes
But you said you are unhappier than ever

What I am sad about is,
Forgetting you, forgetting love, and striving to forget that we have truly loved before
And forgetting to inform you that what is gone cannot be repeated'

Kamis, 24 Maret 2011

Bi-TOLOL-gi

Hachiiihh!! Srooott... Gila, idung gue meler terus-terusan, alias flu. Ditambah dengan batuk terus-terusan sampe badan sakit semua. En hari ini sebenernya udah hari ke tiga di mana gue gak masuk sekolah. Well, I need a deep rest actually. Tapi gue males tidur en terbaring tak berdaya mulu di atas kasur. Jadilah gue memilih untuk MENULIS BLOG! Huahahaha...

Sekalipun gue enak-enakan di rumah beristirahat, gue tetep aja ketinggalan pelajaran. Denger-denger dari temen, gue harus susulan fisika yang kalor. Terus juga ada tes nyanyi Mandarin plus surat cinta dalam bahasa Mandarin (sebenernya, gue gak yakin kalo orang yang nerima surat gue bakal ngerti atau ga). Ada juga tugas kelompok geografi tentang iklim-ikliman. Dan ternyata, pelajaran biologi udah maju 1 bab. Setelah gue mengetahui ini semua, gue merasa pengen sakit gue lebih lama.

Tugas kali ini lebih banyak di hafalan. Gue, sebagai anak yang malas menghafal dan lebih memilih hibernasi berkepanjangan, tentu saja sangat butut di hafalan. Gue gak ngerti kenapa banyak orang yang mau masuk jurusan IPS. Haloo? Bukannya IPS lebih menuntut banyak belajar en begadang ya?

Gue lebih prefer sama pelajaran IPA. Tentu aja, ga usah belajar buat pelajaran itu mah, yang keluar juga itung-itungan. Selama udah ngerti dan bisa aplikasinya, tanpa belajar pun bisa (jiah, omongan gue udah kayak expert science aja =.="). Apa yang perlu dihafalin dari pelajaran matematika, fisika, en kimia? Yah, mungkin satuan-satuan en unsur-unsur gitu. Tapi itu cuma di awal aja, sedangkan IPS kan selama DUA TAHUN full akan berhadapan dengan buku-buku yang siap dibakar.

Oops, I forgot about biology.

Biologi adalah satu-satunya pelajaran di bidang IPA yang membutuhkan konsentrasi lebih dalam membaca (alias menghafal). Dan biologi ini pun yang selalu menjadi batu sandungan gue. Di aksel, gue gak naek gara-gara biologi gue 61 (oke, kimia gue 59, karena banyak hafalan). Sekarang di reguler, nilai biologi gue pun gak bagus-bagus amat kalau dibandingin sama pelajaran mafiki. Jadi, jangan salahkan gue kalau gue membenci biologi sama sekali.

Kebencian gue terhadap biologi pun bertambah setelah gue sakit flu. Gue gak benci dengan virus influenza atau sebangsanya. Gue juga gak benci penyakitnya (yah, berkat flu, gue jadi bisa istirahat penuh selama 3 hari). Gue pun gak benci obat-obatnya. Lantas, apa yang gue benci?

Gue benci dokternya.

Kita sebut saja dia Dokter X. Beliau ini umurnya udah tua, rambutnya udah putih. Tapi dia termasuk dokter yang bagus, dokter senior. Jelas aja, kemaren gue daftar periksa jam 8. Padahal udah sepagi itu, dan gue kebagian urutan ke 15. Buset dah, berarti 14 orang udah daftar dari subuh kali ya?

Setelah gue sampai di tempat praktik, gue mendadak pengen pipis. Tapi gue gak tahu WC nya yang mana. Di ruangan sempit itu, cuma ada kursi buat duduk, TV, wastafel, dan tiga pintu putih yang tertutup. Salah satu dari pintu itu adalah pintu masuk ke ruang praktik. Jadi tinggal tersisa dua pintu lagi yang gue asumsikan sebagai WC. Yang satu ada di seberang ruang praktik, yang satu lagi ada di sebelah ruang praktik. Di depan pintu yang di sebelah ruang praktik, ada wastafel. Gue kira, itu lah WC nya. Tapi berhubung gue takut salah, gue memilih nahan pipis aja en pipis setelah gue nanya ke dokternya.

Akhirnya, gue dipanggil masuk sama dokternya. Masuk-masuk, gue langsung nanya WC di mana. Gue bilang gue mau pipis dulu. Ga nyangka, ternyata si dokternya malah marah.

"Kenapa gak dari tadi coba ke WC nya?" tanya si dokter.
"Yah, saya kan takut salah WC," elak gue. Gak lucu juga misalnya gue pipis di tempat ngeracik obat.
"Kenapa gak tanya?!" si dokter mulai ngebentak. Gue cuma cengengesan doank. Gimana mau nanya kalau dia lagi meriksa pasien, sedangkan di situ gak ada resepsionis yang bisa gue tanyain.
"Ya udah deh, dok. Periksa aja dulu," putus gue.

Gue pun berbaring di atas tempat periksanya. Setelah berbaring, kepala gue ngadep keluar, ke arah si dokternya.

"Heh! Kepalanya ngadep ke tembok, jangan ke saya!" bentak si dokter itu (lagi). Gue nurut, meski gue ngedumel dalem ati. Gondok berat, baru pertama ketemu udah dimarahin.

Dokter: "Kamu udah SMA kan? Udah dapet pelajaran biologi?"
Gue: "Udah." (sambil nelen gondok tiga ton)
Dokter: "Coba, kenapa kamu gak boleh ngadep ke saya? Ayo, kudu bisa jawab!"
Gue: "Takut nular?"
Dokter: "Nah, tuh tau. Jangan liat ke saya, nanti saya ketularan gimana?!"
Gue: "..." (shit)

Nilai biologi gue emang jelek, tapi gak usah gitu juga kali. Sebenernya, ni dokter baek. Dia orangnya ramah juga. Beres gue diperiksa, dia ngajak ngobrol en ternyata, gak senyebelin waktu dia meriksa. Malah dia terkesan dokter yang humble. Mungkin dia ngamuk-ngamuk gara-gara gue mau ke WC tepat di saat sebelum pemeriksaan, which is akan memperlambat waktu kerja dia.

Dia pun akhirnya membiarkan gue ke WC yang benar. Dan ternyata, WC nya tuh yang ada di seberang pintu praktik. Lah, itu wastafel buat apa nangkring di depan pintu yang satu nya lagi?

Keluar dari tempat praktik, gue ngomong ke nyokap.
"Ma, tu dokter galak amat sih? Emang nilai biologi Nana jelek, tapi gak usah gitu juga kali," kata gue ngomel-ngomel ke nyokap.
"Haha... Ada-ada aja. Gitu-gitu juga sodara tau."

JEGEERR... Sodara?!

Dari situ gue belajar satu hal: sebelum pergi ke dokter, ada baiknya belajar biologi dulu.

Selasa, 08 Februari 2011

Damn! It's Just So Beautiful

Hi there! Haha... Udah kurang lebih satu bulanan gue gak nge post di blog. Dan kali ini, gue mau ngepost sepanjang mungkin, ampe kalian butek bacanya! Muahuahahaha!!! Ehm, just kidding.

Dalam satu bulan ini, kembali ada banyak banget hal yang terjadi. Yeah, in my life, one month can be everything. Hal-hal yang terjadi juga aneh-aneh en (kadang) malah jadi sangat berbekas di kemudian hari, bagi gue pribadi. Karena (kembali bagi gue pribadi) semua hal yang memang terjadi dalam kehidupan kita tuh penting untuk bisa membuat "who we are" pada hari-hari berikutnya. Gue berani ngomong gini karena inilah fakta yang sudah dibuktikan oleh fakta. *lho?

Contohnya aja, inget gak tentang si I yang pernah gue ceritain di beberapa postingan yang lalu? Kemarin-kemarin, hubungan gue sama dia sama sekali gak baik, berantakan, ancur. En tinggal nunggu meledak aja.

Tapi, dalam satu bulan ini, ada sesuatu yang berubah: gue baekan sama dia.

Wow. Ini salah satu keajaiban dunia yang mustahil. Dia orangnya pendendam banget (meski gue gak tahu dia dendam apa sama gue). En gue rasa, aneh aja, dia bisa dengan sangat tiba-tiba baekan sama gue. Bukan gue gak seneng dengan peristiwa ini. Justru gue seneng banget karena akhirnya hati dia bisa diluluhkan (jiaaahh).

Teruussss..... Gue merasa gue bahagia banget sekarang. Baik akademis maupun non-akademis, semua berjalan sangat lancar. Yah, memang bener, keluar dari aksel bukanlah akhir dari segala-galanya. Tapi, menganggap keluar dari aksel adalah segala-galanya lah yang bikin gagal. Untungnya, I survive :P

The thing that I can learn from this month: life is so beautiful.

Ya udah, segini aja dulu 'curhatan' dari gue. Hahaha... Kalau sempet en kalau ada something, gue akan share ke kalian lagi deh. Dan sekarang, saya kembali berhibernasi sampai waktunya untuk bangun tiba. Groooookkk....

P.S.: oh iya. Si T udah putus lho... Haha... Ada restu dari pembaca?